Background Color:
 
Background Pattern:
Reset
Search
Kolom Kepala Sekolah

Ramadhan dan Pendidikan

Ramadhan merupakan bulan yang disucikan oleh kaum muslimin. Pada bulan inilah semua umat Islam melaksanakan ibadah puasa ramadhan yang didasarkan kepada keimanan dan keikhlasan dalam rangka menggapai tujuan akhir dari proses penempaan jiwa dan raga, yaitu derajat orang yang bertakwa. Kegiatan-kegiatan keagamaan di bulan ramadhan tumbuh dengan subur, selain dimotivasi oleh janji Allah yang akan melipatgandakan pahala ibadah di bulan ramadhan, juga karena iklim untuk itu sangat mendukung.
Di luar semua itu, banyak sekali hikmah diwajibkannya puasa di Bulan Ramadhan. Hikmah tersebut selayaknya berjalan secara kontinyu bukan hanya pada bulan ramadhan saja, melainkan juga direalisasikan pada setiap hari di bulan-bulan luar Ramadhan. Dengan demikian, hikmah ramadhan tidak hanya 'bergaung' hanya di bulan ramadhan saja, melainkan juga terdengar di setiap hari kehidupan seorang muslim.
Hikmah ramadhan dapat dilihat dari berbagai segi dan aspek. Karena memang biasanya sebuah perintah yang Allah saja yang tahu dan bersifat dogmatis, akan lebih 'manjur' dan dimengerti jika didekati dari sisi ini. Ramadhan memang merupakan ibadah lahiriah yang mensyaratkan beberapa aturan yang harus dipenuhi oleh pelaksananya, namun demikian yang sangat penting adalah persyaratan batiniyah yang harus dijaga. Dengan demikian, ramadhan dimaknai bukan hanya puasa lahiriyah, melainkan juga puasa batiniyah. Rasulullah bersabda: "Banyak orang-orang yang berpuasa, sementara mereka tidak mendapatkan apapun kecuali rasa lapar dan dahaga". Keterangan tersebut merupakan penegasan bahwa ada orang yang beruntung dan ada orang yang pailit dengan puasa ramadhan.
Dari sisi pendidikan, ramadhan sarat dengan berbagai pesan yang dapat diimplementasikan dalam mencapai kualitas pendidikan yang terteinggi. Dalam Ilmu Pendidikan Islam, tujuan akhir dari penddikan adalah tercapainya kondisi 'penghambaan' yang totalitas dari manusia. Totalitas 'penghambaan' hanya dapat dilaksanakan oleh orang yang benar-benar memiliki karakteristik muttaqin. Muttaqin, adalah orang yang melakukan penghambaan cipta, karya dan karsanya dalam rangka 'imtitsal' (menjalankan) perintah Allah dan berupaya menjauhkan diri dari larangan-Nya.Dunia pendidikan ketiga aspek tersebut merupakan kompetensi yang harus dicapai oleh peserta didik dalam pembelajarannya, yaitu mencapai tingkat penguasaan kompetensi kognitif, affektif dan psikomotor.
 

1) Aspek Kognitif Ibadah Ramadhan
Dari sisi kompetensi kognitif, puasa ramadhan mengajarkan kepada kita agar kita mampu meniti tangga-tangga tertinggi dari kompetensi tersebut. Ramadhan menunjukkan kepada kita agar kita mampu mencapai tingkat tertinggi dari ranah kognitif, yang kalau meminjam istilah Prof. Dr. Achmad Sanusi, dikenal "higher thinking skill" (keterampilan berfikir tingkat tinggi). Dalam teori Bloom, tingkatan kognitif paling tinggi adalah 'mampu mengevaluasi'. Dengan demikian, Ramadhan harus mampu mendorong pelaksananya untuk memapu memikirkan secara evaluatif dari kegiatan ramadhannya.
Ramadhan dari aspek ini mengajarkan kepada kita agar mampu melakukan evaluasi dalam rangka perbaikan. Seperti halnya orang yang belajar, kesalahan adalah pengalaman yang berharga dalam rangka mencari kebenaran. Proses evaluasi dilaksanakan untuk membuktikan tingkat pencapaian kita terhadap peringkat tertentu. Dalam ramadhan peringkat 'muttaqun' adalah puncak tertinggi dengan segenap karakteristik dan konsekuensinya. Seharusnya ramadhan mampu mendorong kita untuk mampu mengevaluasi diri "sudahkah kita menjadi orang yang bertakwa?". "Adakah ciri-ciri orang yang bertakwa itu pada diri kita?". "Sudahkah kita berbuat sebagaimana yang dilakukan orang-orang yang bertakwa?".
Sebetulnya yang mengevaluasi ibadah shaum kita adalah prerogatif Allah. "Ashaumu li wa ana ajzi bih" (puasa itu milik-Ku, dan Akulah yang memberikan balasannya (menilainya)". Meski demikian, ada standar-standar yang diberikan oleh Hadits dan ajaran ulama tentang puasa yang 'insya Allah' mendapat nilai baik. Standar-standar itulah yang harus dijadikan dasar kompetensi penerapan makna shaum ramadhan dalam kehidupan kita sehari-hari.
Level-level lain hikmah kognitif puasa ramadhan, diantaranya kita mempu mensintesiskan ramadhan ke dalam kehidupan kita sehari-hari. Ramadhan bukan hanya dijadikan sebagai pemahaman dan ingatan semata, melainkan juga harus mampu dipahami dan disintesiskan sehingga ramadhan mampu menjadi 'ruh' perjalanan ibadah kita di dalam maupun di luar ramadhan.
 

2) Aspek Afektif Ibadah Ramadhan
Secara singkat affektif lebih dekat dengan istilah rasa dan sikap. Dengan melalui pendekatan afektif ibadah ramadhan, seharusnya ramadhan mampu menciptakan proses transformasi diri dan sikap pelakunya agar mampu menerapkan kebaikan-kebaikan yang terdapat di dalamnya. Banyak sekali hikmah ramadhan yang berkaitan dengan perbaikan sikap seorang muslim. Misalnya, yang diajarkan oleh Nabi tentang kecintaan dan kepedulian terhadap sesama: "seseorang tidak layak dikatakan beriman, sehingga dia mampu mencintai (peduli) kepada saudaranya seperti dia mencitai (peduli) kepada dirinya". Pesan ini (seharusnya) sangat nyata dalam bulan ramadhan. Para da'i dan muballigh sering menanalogikan ibadah puasa ramadhan dengan kepedulian kita terhadap kaum fuqara dan masakin. "kita harus ingat, mereka mungkin dapat makan pagi untuk hari ini, besok belum tentu!" dan sejenisnya. Namun yang paling penting adalah sikap kita sebagai realisasi perwujudan hikmah ramadhan terhadap mereka.
Rasa lapar puasa di siang hari ramadhan, seharusnya mewujudkan rasa hormat dan kagum kita kepada mereka. Rasa haus kita di bulan ramadhan, seharusnya menumbuhkan sikap untuk menyayangi mereka, seperti halnya kita menyayangi diri kita sendiri. Hadits Nabi menyatakan: "Perumpamaan orang mukmin dengan mukmin lainnya bagaikan satu tubuh. Bila ada anggota tubuh yang sakit, maka anggota tubuh lainnya ikut merasakannya". Ketika kaki kita tersandung batu, mulut kita sentak menjerit, mata kita berlinang, dan tangan kita dengan reflek mengelus-elus daerah yang sakit.
Di sisi lain kita harus mampu memaknai lapar ramadhan sebagai sikap kita untuk menguji tingkat kesabaran kita. Bisakah kita bersabar dan mengendalikan nafsu kita di saat waktunya sarapan kita tinggalkan, makan siang kita tinggalkan, ke kafe di sore hari kita tinggalkan. Karena kita dan Allah sendiri yang mampu menilai sejauhmana nafsu kita mampu mengendalikannya.
 

3) Aspek Psikomotor Ibadah Ramadhan
Iklim dan budaya ramadhan yang ajaib mampu mendorong umat Islam untuk memperbanyak variasi ibadah dengan berbagai bentuknya, mulai dari ibadah individual maupun ibadah sosial. Selain itu, ramadhan juga mampu menghidupkan malam-malamnya dengan bacaan-bacaan al-Qur'an dan shalat-shalat sunnah. Suatu kondisi yang sangat indah di padang mata.
Aktivitas positif ramadhan yang sering kita jumpai di berbagai tempat tersebut, seharusnya dapat pula berjalan hingga awal-awal bulan syawal saja, melainkan juga harus mampu hidup di setiap bulan. Rasulullah bersabda: "man qaama ramadhana imaanan wahtisaban ghufira lahu ma taqqadam min dzambih" (barang siapa mendirikan ibadah ramadhan dengan keimanan dan keikhlasan, maka akan diampuni oleh Allah segala dosa-dosanya yang telah lalu). Dalam konteks lain dikatakan "suci bersih bagai bayi yang baru lahir dari rahim ibunya".
Pertanyaannya tidakkah kita ingin bahwa pengampunan itu juga berlaku di luar ramadhan? Oleh karena itu dalam memaknai hadits tersebut, term qaama harus dipahami dengan makna yang holistik dan universal. Kata qaama harus dipahami sebagai mendirikan secara kontinuitas atau istiqamah (qaama dan istiqaamah merupakan dua kata dengan satu akar kata).
Aspek-aspek praktis kegiatan ramadhan seharusnya menjadi bagian dari praksis dunia pendidikan. Sehingga pendidikan bukan hanya mengemban misi untuk mencerdaskan atau membuat manusia mengenal dirinya dan Tuhannya, akan tetapi mampu menumbuhkan sikap sebagai orang intelek dan mampu merealisasikannya dalam kehidupan. "ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah".
Pengajian al-Qur'an yang bersahutan di malam-malam ramadhan, seharusnya tidak berhenti di bulan-bulan lainnya. Frekuensi shadaqah dan infak di bulan ramadhan, bukan hanya sekedar trend sesaat. Semuanya... semuanya harus menjadi realisasi bentuk ibadah kita di bulan-bulan lainnya. Sehingga pengampunan Allah dapat berlaku di hari-hari lain di luar ramadhan.
 

4) Lailatul Qadar adalah Ultimatum Kelulusan
Salah satu hal yang menggiurkan di bulan ramadhan adalah adanya malam lailatul qadar (malam ukuran). Malam tersebut seimbang bahkan lebih baik daripada 1000 bulan. Pada malam itu malaikat dan al-ruh (malaikat Jibril) turun ke bumi dengan izin Tuhannya untuk mengurus pencurahan berbagai salam (kesuksesan) bagi manusia hingga akhir malam, yaitu waktu terbit fajar. Orang yang paling beruntung adalah orang yang mendapatkan lailatul qadar pada malam itu. Pertanyaannya, bagaimana kita dapat menjadi salah satu dari mereka? Jawabannya adalah pertanyaan berikutnya: "Pantaskah kita mendapat lailatul qadar?".
Ditentukannya malam lailatul qadar sebetulnya bukan tanpa alasan, bukan hanya sekedar janji agar manusia ramai-ramai menghidupkan malam-malam akhir bulan Ramadhan. Akan tetapi ada makna lain yang tumbuh di sana, yaitu agar kita mampu menangkap sinyal-sinyalnya. Dari berbagai sumber yang menyatakan bahwa orang yang mendapatkan lailatul qadar akan mengalami transformasi jiwa ke arah yang lebih positif, memiliki kepercayaan diri, keimanan yang kuat, ketahanan batin dan penjagaan terhadap perilaku sehari-hari. Semuanya serba baik, dimata manusia dan di mata Tuhan.
Alhasil, bahwa orang yang mendapatkan lailatul qadar adalah orang yang mampu menerapkan hikmah ramadhan dalam kehidupannya sehari-hari. Inilah yang sering kita mintakan di setiap shalat "ihdinash shiratal mustaqim", yaitu jalannya orang-orang yang telah diberikan kenikmatan oleh Allah SWT. Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman: "inna ladzina aamanu tsumastaqaamu tatanazzalu 'alaihimul malaikatu alla takhafu wa la tahzanu, wa absyiru biljannah allati wu'iddal muttaqun". (sessungguhnya orang-orang yang beriman kemudian beristiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka untuk mengatakan: janganlah engkau merasa takut dan khawatir, dan bergembiralah atas syurga yang dijanjikan Allah kepada orang-orang yang bertakwa). Misteri laelatul qadar, jika dilihat dari sisi ini menyiratkan dua hal yang menjadi syarat kita mendapatkan kunjungan dari para malaikat, yaitu: beriman dan istiqamah.
Dalam konteks pendidikan, keduanya harus menjadi standar inti kelulusan. Artinya kualitas lulusan dari sekolah maupun perguruan tinggi dan apapun namanya, harus diarahkan untuk mencapai kedua aspek tersebut, yaitu orang yang memiliki keimanan dan memiliki sikap istiqamah.

Selamat menunaikan ibadah shaum ramadhan 1432 H, semoga segala amal ibadah kita di bulan ramadhan diterima Allah SWT. 
(wallahu a'lam bish shawab)

Tag:

Post Rating

Comments

There are currently no comments, be the first to post one!

Post Comment

Name (required)

Email (required)

Website

CAPTCHA image
Enter the code shown above: