Background Color:
 
Background Pattern:
Reset
Search
Kolom Kepala Sekolah

Menata Reformasi Sistem Pembelajaran di Kelas

Guru yang baik dengan karakteristik yang sudah dijelaskan diatas tidaklah cukup dengan berdiri tunggal untuk dapat menciptakan suasana iklim belajar yang kondusif dan menyenangkan bagi para siswa. Namun, sebaiknya dipadukan dengan suatu upaya mereformasi sistem pembelajaran di kelas. Tujuannya untuk mengubah gaya pembelajaran di kelas yang dianggap kurang menarik para siswa seperti gaya mengajar guru yang monoton dan hanya ceramah sehingga membuat siswa cepat bosan dan tidak bersemangat untuk belajar di kelas.

Menurut penulis, yang dapat menentukan keberhasilan guru dalam meningkatkan belajar dan prestasi siswa di kelas yaitu, kualitas pola pembelajaran guru. Kualitas yang bersinergi dengan ruang kebebasan bagi para peserta didik untuk melakukan kreativitas dan menciptakan inovasi-inovasi dalam kegiatan belajar mengajar dikelas. Disini guru tidak lagi pilih kasih terhadap anak-anak yang pintar dan anak yang kurang pintar. Betapa ironisnya jika sang guru di Zaman sekarang ini masih saja berbuat pilih kasih dan tidak memberi perhatian secara merata kepada siswa-siswanya. Itu namanya bukan mencerminkan sifat guru sejati. Malah ia telah mendeskreditkan dan mengesampingkan hak asasi siswa untuk mendapatkan pelayanan pengajaran yang adil. Guru yang seperti itu tidak layak disebut sebagai guru, apalagi guru bangsa. Hanya berselimut gelar sebagai pahlawan ‘pencerdasan bangsa’ tetapi tindakan dan hasil pengajarannya berselimut ‘kejahatan semu’ terhadap perkembangan belajar siswa.

Para pendidik atau guru pun tak luput dari sorotan dan keterlibatan dalam ketertindasan pendidikan yang mengekang kebebasan kreativitas dan daya inovatif para siswa. Betapa tidak, kebanyakan gaya mengajar para pendidik di Indonesia khususnya sekolah formal tanpa disadari telah melahirkan budaya”silent” bagi para siswa. Mengapa dapat dikatakan seperti itu? Karena para pendidik menerapkan gaya mengajar klasikal, monoton, membosankan, dan berpusat pada guru. Memandang gurulah yang paling tahu dan pintar dalam pembelajaran. Tidak hanya itu culture domination pun kerap kali mewarnai proses kegiatan belajar mengajar di kelas oleh para pendidik. Para pendidik tersebut dianggap telah gagal menjalankan fungsinya sebagai guru yaitu mendidik para siswanya. Setiap siswa memang memiliki karakter dan sifat yang berbeda-beda serta gaya belajarnya yang berbeda-beda pada masing-masing anak. Untuk itulah disini sang guru harus dituntut mempunyai keahlian dalam mengahadapi para murid. Yaitu keahlian untuk dapat mereformasi sistem pembelajaran di kelas ke arah yang lebih baik.

Sudah saatnyalah kini guru-guru Indonesia untuk terus berpacu memperbaiki mutu kualitas SDM dalam mengajar dan menata sistem pembelajarannya di kelas. Melaksanakan dan menanamkan semboyan yang telah dicetuskan oleh Ki Hajar Dewantara yaitu pertama Ing ngarsa sung tulada (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan baik).Dari depan seorang guru harus memberikan suri teladan dan contoh yang baik kepada peserta didiknya melalui perilaku dan tindakannya selama kegiatan belajar mengajar dikelas.
Kedua, Ing madya mangun karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide). Disini guru harus dapat menciptakan inovasi-inovasi dan ide baru dalam mengajar sehingga dengan inovasi tersebut dapat memacu dan meningkatkan mutu dan prestasi siswa.

Ketiga, Tut wuri handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan). Guru dituntut harus dapat memberikan dorongan apabila ada siswa yang memerlukannya. Guru harus memiliki kepekaan terhadap siswanya yang mengalami masalah dalam pembelajarannya. Kemudian selain mendorong meningkatkan motivasi belajar siswa guru juga diharapkan dapat memberikan arahan. Mengarahkan siswa-siswanya tanpa pilih kasih dalam kegiatan belajar mengajar sehingga terjadi harmonisasi di antara semua peserta didik. Tidak ada yang merasa terdiskriminasi, tidak ada yang lebih dominan, dan tidak ada yang direndahkan ataupun merasa ditinggikan. Dengan arahan yang bijak, semua siswa akan merasa mendapatkan porsi pelayanan pengajaran yang adil dan merata sesuai dengan kapasitas dan kemampuan mereka.

Tag:

Post Rating

Comments

Anti Korupsi
# Anti Korupsi
Tuesday, June 28, 2016 8:21 PM
Tolong diperbaiki lagi Bu, SMPN 4 ini sebagai sekolah favorit tapi masih banyak praktek beli bangku dan lain sebagainya bahkan modus2 lainnya, apabila SMPN seperti ini ada di Jakarta, sudah pasti di rombak total seluruh guru dan kepsek nya, ada beberapa media online tiap tahun sering membahas adanya uang2 liar, tapi percuma dinasty di tangsel ini cukup kuat meskipun biangnya sudah di garuk KPK, sungguh kecewa kenapa sistem PPDB SMP di Tangsel ini, berbeda sekali dengan DKI, padahal DKI sebagai acuan untuk seluruh Indonesia, sayang sekali SMPN ini letaknya di Tangsel, tapi kalo saja di Jakarta ga berkutik kalian semua dibawah pimpinan gubernur Ahok:

Berikut media yang pernah meliput SMPN ini :

http://metro.sindonews.com/read/817287/31/protes-pungli-di-smpn-4-tangsel-wali-murid-demo-1387165478

http://www.kabar6.com/tangerang/selatan/15257-matodah-smpn-4-tangsel-wajib-kembalikan-uang-siswa

http://www.mediabhayangkara.co.id/2016/06/smpn-4-tangsel-kutip-dana-donasi-orang-tua-siswa-keberatan/

http://tironews.com/direktur-lami-kepala-smpn-4-tangsel-bisa-dipenjarakan/

Post Comment

Name (required)

Email (required)

Website

CAPTCHA image
Enter the code shown above: